Marhaban Ya Ramadhan
Alhamdulillah bisa
dipertemukan lagi di bulan yang suci ini, semoga kita semua bisa meningkatkan
ibadah di bulan ini dan lanjut ke bulan-bulan berikutnya. Aamiin…
Hai diantara kalian
para pembaca, adakah yang pernah terjebak friendzone?
Kamu menyukai teman satu kelasmu mungkin? Teman satu sekolah? Atau teman
sepermainan? Setuju nggak kalau friendzone
itu sepaket sama cinta dalam diam, cinta bertepuk sebelah tangan, dan…patah
hati? Aku sendiri sih pernah, dulu waktu SMA. Rasanya? Serba salah. Mau bilang
nggak berani, nggak bilang tapi nyesek di hati. Udah nggak usah dibahas lebih
lanjut. Takutnya dia baca. Hhaaha
Kali ini, aku akan
mengulas sebuah novel yang mengangkat tema friendzone.
Novel dengan judul ‘Benaya dan Dara’ ini karya Inge Shafa. Ada yang tahu? Atau
kamu sudah baca kisah mereka? Yuk bisa nimbrung di kolom komentar bawah.
Judul
: Benaya dan Dara
Penulis
: Inge Shafa ( @ingeshafa )
Penerbit
: PT Elex Media Komitundo
Tahun
terbit : April 2017
Tebal
: 314 halaman
Untuk blurb nya bisa
disimak berikut ini
Benaya Alghariz itu dewanya pelajaran eksak. Matematika,
Fisika, Kimia semua gampang dilibas habis sama dia! Makanya, gue suka banget
waktu minta tolong Benaya bantu menyelesaikan PR-PR gue.
Sedangkan gue, Shadara, hanya perempuan biasa. Penyuka warna
biru, teori-teori Sejarah, dan… Benaya. Cowok berkacamata dan sering pake jaket
parasut itu benar-benar bikin gue dag-dig-dug setengah mati. Apalagi, setiap
pagi dia suka kasih gue permen lollipop.
Tetapi, gue melakukan kesalahan dengan menyatakan perasaan
ketika kami tengah belajar bersama. Entah kemana perginya akal sehat. Bahkan
gue menyuruh Benaya untuk memutuskan hubungannya dengan Vera.
Ya nggak mungkin juga sih ‘selesai’ dengan Vera. Banyak
sekali persamaan mereka. Sama-sama good
looking, jago banget Fisika, juga sering ikut lomba bersama. Pupus sudah
harapan.
Eh tetapi, Benaya bilang, dia bakal terima gue kalau nilai
Fisika gue melonjak naik. Bisa nggak ya gue? Benaya serius nggak ya bilang itu?
atau Cuma biar gue nggak ganggu-ganggu dia lagi?
Itu tadi blurbnya. Udah bisa nebak kan bagaimana
karakter Benaya dan Dara? Belum? Oke aku kasih sedikit penggambaran terkait
karakter Benaya dan Dara.
Benaya Alghariz, kerap
disapa Ben, Bang Ben, dan Benjol. Seperti yang dijelaskan dalam blurb, Ben
memang masternya Fisika. Dia bahkan beberapa kali mewakili sekolahnya untuk
mengikuti olimpiade. Dan seringkali menyabet juara. Meski begitu, Ben bodoh
soal perasaan, ini statement Dara. Omongan Ben juga pedes, namun pribadinya
tenang, sedikit cuek, dan satu yang harus dicatat bahwa Ben punya prinsip
‘pantang pacaran sebelum bekerja’. Kita lihat apa Ben bisa tetap memegang
prinsipnya saat seseorang di masa putih abu-abu perlahan mengusik hatinya.
Shadara Mahawan, cewek
penyuka warna biru ini satu kelas sama Ben. Dara si penyuka Sejarah dengan
berbagai teori-teori aneh yang menyertainya. Dara pribadi yang ceroboh, grusa-grusu, dan yang pasti dia
sepertinya salah masuk jurusan IPA, terbukti dengan nilai menghitungnya yang
hampir selalu mengikuti remedial. Menurut Ben, Dara manis. Tetapi kalau
dibandingkan Vera, Dara kalah jauh.
Alvera Khadizya, cewek
cantik dengan jilbab yang menutupi kepala. Vera modis, pintar, anggun, dan
dari kalangan berada. Ia kerap mengikuti olimpiade bersama Benaya. Benaya dan
Vera memang pasangan yang serasi, Dara bahkan mengakuinya. Selain itu, Vera
memiliki ambisi kuat untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Revran, sosok yang
muncul di pertengahan cerita. Menjadi kakak seorang Vera tak membuatnya ikut
mendukung sepenuhnya apa yang adiknya lalukan. Revran ini sosok kakakable
banget. Stttt… dia pernah ada masalah pribadi dengan Ben lho. Coba tebak!
Nah, sekarang aku kasih
penggambaran kisah mereka. Semoga nggak spoiler ya, hehe
Pasca Dara mengungkapkan
perasaannya atau bisa dibilang ‘menembak’ Benaya, dia kini justru bingung
bagaimana harus bersikap. Padahal, Benaya bilang baru akan menerima Dara jika
grafik nilai Fisika gadis itu naik.
Saat Dara bisa memenuhi
syarat yang Ben ajukan, dia segera menagih janji Benaya. Ucapan yang waktu itu
dianggap Benaya sebagai permintaan sampah justru bagi Dara dianggap serius.
Pada akhirnya, Ben mengabulkan permintaan Dara dengan syarat hanya mereka
berdua yang tahu.
Meningkatnya status
hubungan mereka tak berdampak banyak bagi Dara. Ada Vera, mantan Benaya yang
seolah mendoktrin bahwa Ben hanya miliknya. Persaingan antara Vera dan Dara
dalam memperebutkan Ben memang tak kentara bagi murid lain. Tetapi sebenarnnya,
ada aura permusuhan diantara keduanya. Pun Benaya, sikapnya masih sama. Masih
menyebalkan dan rasa begonia terhadap perasaan seringkali menyikiti Dara.
“Kalau misalnya
gue nggak bisa lepas dari Vera, apa lo yang akan lepa dari gue.” Hal. 66
Hingga pada akhirnya,
Dara mencoba melepas. Mungkin ia sadar bahwa cewek memang seharusnya ada untuk
dikejar, bukan mengejar. Namun saat Dara menjauh, Ben menariknya kembali
mendekat. Selalu begitu, berulang-ulang. Puncaknya, saat Benaya dihadapkan pada
dua pilihan, perasaan atau masa depan. Mana yang akan Ben pilih? Apa dia bakal
kembali konsisten terhadap prinsipnya untuk tidak pacaran sebelum bekerja?
“… pernah gue
berfikir, mereka ini cewek. Bukan seharusnya mengharapkan, tapi diharapkan.
Nggak seharusnya mereka nungguin yang nggak pasti. dan ngerasa kasihan.
Seharusnya di zaman ini, mereka berlomba-lomba untuk meraih prestasi bukannya
malah urus soal percintaan.” Hal. 241
Kamu tahu? Aku ikut tertampar
akan kalimat Benaya itu. Aku ngerasa ada benarnya. Dan baru merasa bodoh dengan
sikap sewaktu SMA dulu. Tetapi bukankan manusia bisa belajar dengan kesalahan
masa lalu? Itulah yang tengah aku lakukan sekarang. Ini kenapa jadi curhat ya. haha
Novel ini merupakan
salah satu wishlist ku di tahun 2017
dan baru kebeli bulan April lalu. Iya, hampir satu tahun hingga pada akhirnya
bisa memeluk Mas Benjol. Kenapa aku menjadikan novel ini sebagai salah satu
novel yang harus aku punya? Jawabannya karena aku jatuh cinta pada sosok
Benaya. Meski dia menyebalkan, tetapi Inge berhasil menciptakan sisi lain Ben
yang pantas untuk dicintai. Selain itu, novel ini juga berhasil mengubah arah
pandangku terhadap suatu profesi, apa itu? tebak coba! Wekwek…
Dengan tema
semainstream itu tak menjadikan novel dengan cover biru muda ini susah untuk
dinikmati. Aku justru merasa setiap kisah yang ada seperti nyata. Karakter-karakter
pendukung mungkin bisa kamu temui di keseharianmu saat sekolah. Seperti gerombolan
Mas Anang yang suka bikin ribut di kelas dan juga Utara. Bahkan aku memiliki
teman dengan karakter hampir mirip dengannya. Aku juga merasakan karakter utama
yang cukup kuat. Inge berhasil menciptakan karakter Ben yang manis sekaligus
menyebalkan, juga Dara. Jujur, aku greget dengan mereka berdua, Benaya yang
berbelit-belit dalam menyampaikan perasaan dan Dara yang meledak-ledak sehingga
sulit mengerti apa yang sebenarnya Ben maksud.
Alur yang digunakan
yaitu alur campuran. Meski aku sedikit bingung dengan penyampaian Inge, tapi
sejauh ini aku menikmatinya. Masih ada beberapa kesalahan ketik, tenang, nggak
cukup mengganggu.
Banyak juga pesan yang
ingin disampaikan Inge, mungkin salah satunya yang bisa aku berikan yaitu ‘cinta
masa remaja memang perlu, tetapi prestasi harus tetap maju’. Aku salut sih sama
Ben, ya you know lah, jaman sekarang
tak sedikit remaja yang terlalu mengekspresikan rasa sukanya.
Naksir-pdkt-tembak-jadian-putus, selalu begitu fasenya hingga tanpa sadar
mantan sudah segudang. Ya, ini tergantung dari sudut mana kita memandang sih,
kalau menurut kamu itu nggak merugikan ya silakan. Tapi tetap harus
mengutamakan pendidikan.
Terakhir, aku mau kasih
ini, “Dan biarkan takdir yang berkata, karena aku percaya saat takdir
berkata, dia tak pernah berdusta.”
So, sampai jumpa di
review selanjutnya, meski entah kapan.
By
the way, barangkali Inge baca ini, please lanjutin kisah
SAMA. Aku menunggu mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar