Senin, 21 Mei 2018

Benaya dan Dara a novel by Inge Shafa


Marhaban Ya Ramadhan
Alhamdulillah bisa dipertemukan lagi di bulan yang suci ini, semoga kita semua bisa meningkatkan ibadah di bulan ini dan lanjut ke bulan-bulan berikutnya. Aamiin…

Hai diantara kalian para pembaca, adakah yang pernah terjebak friendzone? Kamu menyukai teman satu kelasmu mungkin? Teman satu sekolah? Atau teman sepermainan? Setuju nggak kalau friendzone itu sepaket sama cinta dalam diam, cinta bertepuk sebelah tangan, dan…patah hati? Aku sendiri sih pernah, dulu waktu SMA. Rasanya? Serba salah. Mau bilang nggak berani, nggak bilang tapi nyesek di hati. Udah nggak usah dibahas lebih lanjut. Takutnya dia baca. Hhaaha
Kali ini, aku akan mengulas sebuah novel yang mengangkat tema friendzone. Novel dengan judul ‘Benaya dan Dara’ ini karya Inge Shafa. Ada yang tahu? Atau kamu sudah baca kisah mereka? Yuk bisa nimbrung di kolom komentar bawah.

Judul : Benaya dan Dara
Penulis : Inge Shafa ( @ingeshafa )
Penerbit : PT Elex Media Komitundo
Tahun terbit : April 2017
Tebal : 314 halaman


Untuk blurb nya bisa disimak berikut ini

Benaya Alghariz itu dewanya pelajaran eksak. Matematika, Fisika, Kimia semua gampang dilibas habis sama dia! Makanya, gue suka banget waktu minta tolong Benaya bantu menyelesaikan PR-PR gue.

Sedangkan gue, Shadara, hanya perempuan biasa. Penyuka warna biru, teori-teori Sejarah, dan… Benaya. Cowok berkacamata dan sering pake jaket parasut itu benar-benar bikin gue dag-dig-dug setengah mati. Apalagi, setiap pagi dia suka kasih gue permen lollipop.

Tetapi, gue melakukan kesalahan dengan menyatakan perasaan ketika kami tengah belajar bersama. Entah kemana perginya akal sehat. Bahkan gue menyuruh Benaya untuk memutuskan hubungannya dengan Vera.

Ya nggak mungkin juga sih ‘selesai’ dengan Vera. Banyak sekali persamaan mereka. Sama-sama good looking, jago banget Fisika, juga sering ikut lomba bersama. Pupus sudah harapan.

Eh tetapi, Benaya bilang, dia bakal terima gue kalau nilai Fisika gue melonjak naik. Bisa nggak ya gue? Benaya serius nggak ya bilang itu? atau Cuma biar gue nggak ganggu-ganggu dia lagi?

Itu tadi blurbnya. Udah bisa nebak kan bagaimana karakter Benaya dan Dara? Belum? Oke aku kasih sedikit penggambaran terkait karakter Benaya dan Dara.

Benaya Alghariz, kerap disapa Ben, Bang Ben, dan Benjol. Seperti yang dijelaskan dalam blurb, Ben memang masternya Fisika. Dia bahkan beberapa kali mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade. Dan seringkali menyabet juara. Meski begitu, Ben bodoh soal perasaan, ini statement Dara. Omongan Ben juga pedes, namun pribadinya tenang, sedikit cuek, dan satu yang harus dicatat bahwa Ben punya prinsip ‘pantang pacaran sebelum bekerja’. Kita lihat apa Ben bisa tetap memegang prinsipnya saat seseorang di masa putih abu-abu perlahan mengusik hatinya.

Shadara Mahawan, cewek penyuka warna biru ini satu kelas sama Ben. Dara si penyuka Sejarah dengan berbagai teori-teori aneh yang menyertainya. Dara pribadi yang ceroboh, grusa-grusu, dan yang pasti dia sepertinya salah masuk jurusan IPA, terbukti dengan nilai menghitungnya yang hampir selalu mengikuti remedial. Menurut Ben, Dara manis. Tetapi kalau dibandingkan Vera, Dara kalah jauh.

Alvera Khadizya, cewek cantik dengan jilbab yang menutupi kepala. Vera modis, pintar, anggun, dan dari kalangan berada. Ia kerap mengikuti olimpiade bersama Benaya. Benaya dan Vera memang pasangan yang serasi, Dara bahkan mengakuinya. Selain itu, Vera memiliki ambisi kuat untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Revran, sosok yang muncul di pertengahan cerita. Menjadi kakak seorang Vera tak membuatnya ikut mendukung sepenuhnya apa yang adiknya lalukan. Revran ini sosok kakakable banget. Stttt… dia pernah ada masalah pribadi dengan Ben lho. Coba tebak!
Nah, sekarang aku kasih penggambaran kisah mereka. Semoga nggak spoiler ya, hehe

Pasca Dara mengungkapkan perasaannya atau bisa dibilang ‘menembak’ Benaya, dia kini justru bingung bagaimana harus bersikap. Padahal, Benaya bilang baru akan menerima Dara jika grafik nilai Fisika gadis itu naik.

Saat Dara bisa memenuhi syarat yang Ben ajukan, dia segera menagih janji Benaya. Ucapan yang waktu itu dianggap Benaya sebagai permintaan sampah justru bagi Dara dianggap serius. Pada akhirnya, Ben mengabulkan permintaan Dara dengan syarat hanya mereka berdua yang tahu.

Meningkatnya status hubungan mereka tak berdampak banyak bagi Dara. Ada Vera, mantan Benaya yang seolah mendoktrin bahwa Ben hanya miliknya. Persaingan antara Vera dan Dara dalam memperebutkan Ben memang tak kentara bagi murid lain. Tetapi sebenarnnya, ada aura permusuhan diantara keduanya. Pun Benaya, sikapnya masih sama. Masih menyebalkan dan rasa begonia terhadap perasaan seringkali menyikiti Dara.

“Kalau misalnya gue nggak bisa lepas dari Vera, apa lo yang akan lepa dari gue.” Hal. 66

Bisa dibayangkan seberapa menyebalkannya Benaya. Padahal Dara telah menjatuhkan harga dirinya dengan mengungkapkan perasaannya lebih dulu, bahkan dia terkesan seperti mengemis cinta pada Ben. Tetapi Ben memang begitu. Meski perlakuannya terhadap Dara terkadang manis, tapi di sisi lain ia seperti mendorong Dara menjauh dengan sikapnya yang masih peduli dengan Vera.

Hingga pada akhirnya, Dara mencoba melepas. Mungkin ia sadar bahwa cewek memang seharusnya ada untuk dikejar, bukan mengejar. Namun saat Dara menjauh, Ben menariknya kembali mendekat. Selalu begitu, berulang-ulang. Puncaknya, saat Benaya dihadapkan pada dua pilihan, perasaan atau masa depan. Mana yang akan Ben pilih? Apa dia bakal kembali konsisten terhadap prinsipnya untuk tidak pacaran sebelum bekerja?

“… pernah gue berfikir, mereka ini cewek. Bukan seharusnya mengharapkan, tapi diharapkan. Nggak seharusnya mereka nungguin yang nggak pasti. dan ngerasa kasihan. Seharusnya di zaman ini, mereka berlomba-lomba untuk meraih prestasi bukannya malah urus soal percintaan.” Hal. 241

Kamu tahu? Aku ikut tertampar akan kalimat Benaya itu. Aku ngerasa ada benarnya. Dan baru merasa bodoh dengan sikap sewaktu SMA dulu. Tetapi bukankan manusia bisa belajar dengan kesalahan masa lalu? Itulah yang tengah aku lakukan sekarang. Ini kenapa jadi curhat ya. haha

Novel ini merupakan salah satu wishlist ku di tahun 2017 dan baru kebeli bulan April lalu. Iya, hampir satu tahun hingga pada akhirnya bisa memeluk Mas Benjol. Kenapa aku menjadikan novel ini sebagai salah satu novel yang harus aku punya? Jawabannya karena aku jatuh cinta pada sosok Benaya. Meski dia menyebalkan, tetapi Inge berhasil menciptakan sisi lain Ben yang pantas untuk dicintai. Selain itu, novel ini juga berhasil mengubah arah pandangku terhadap suatu profesi, apa itu? tebak coba! Wekwek…

Dengan tema semainstream itu tak menjadikan novel dengan cover biru muda ini susah untuk dinikmati. Aku justru merasa setiap kisah yang ada seperti nyata. Karakter-karakter pendukung mungkin bisa kamu temui di keseharianmu saat sekolah. Seperti gerombolan Mas Anang yang suka bikin ribut di kelas dan juga Utara. Bahkan aku memiliki teman dengan karakter hampir mirip dengannya. Aku juga merasakan karakter utama yang cukup kuat. Inge berhasil menciptakan karakter Ben yang manis sekaligus menyebalkan, juga Dara. Jujur, aku greget dengan mereka berdua, Benaya yang berbelit-belit dalam menyampaikan perasaan dan Dara yang meledak-ledak sehingga sulit mengerti apa yang sebenarnya Ben maksud.

Alur yang digunakan yaitu alur campuran. Meski aku sedikit bingung dengan penyampaian Inge, tapi sejauh ini aku menikmatinya. Masih ada beberapa kesalahan ketik, tenang, nggak cukup mengganggu.

Banyak juga pesan yang ingin disampaikan Inge, mungkin salah satunya yang bisa aku berikan yaitu ‘cinta masa remaja memang perlu, tetapi prestasi harus tetap maju’. Aku salut sih sama Ben, ya you know lah, jaman sekarang tak sedikit remaja yang terlalu mengekspresikan rasa sukanya. Naksir-pdkt-tembak-jadian-putus, selalu begitu fasenya hingga tanpa sadar mantan sudah segudang. Ya, ini tergantung dari sudut mana kita memandang sih, kalau menurut kamu itu nggak merugikan ya silakan. Tapi tetap harus mengutamakan pendidikan.
Terakhir, aku mau kasih ini, “Dan biarkan takdir yang berkata, karena aku percaya saat takdir berkata, dia tak pernah berdusta.

So, sampai jumpa di review selanjutnya, meski entah kapan.
By the way, barangkali Inge baca ini, please lanjutin kisah SAMA. Aku menunggu mereka.

Sabtu, 05 Mei 2018

Review Breaking Point karya Pretty Angela

Wellcome Mei
Untuk menyambut bulan kelima kali ini, aku ingin membagikan review novel Breaking Point. Adakah yang sudah membaca? For your information, novel ini pernuh dengan motivasi. Genrenya memang young addult, but isinya benar-benar luar biasa. Kenalan dulu sama covernya yuk...




Judul : Breaking Point
Penulis : Pretty Angelia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Tebal : 240 halaman

Covernya kece ya. Atau fotoku yang kece? wkwk
Nah, berikut ini aku kasih liat blurb nya. Yuk simak

Geta, 17 tahun
Gue terpaksa ikutan program paket C karena dikeluarin dari sekolah. Mungkin lo semua heran mantan ketua OSIS kayak gue bisa tersandung kasus berat. Ini masalah prinsip dan gue yakin, gue nggak bersalah. Sebenarnya gue sempat malu karena gue pikir bakal ketemu sama orang-orang gagal. Namun, setelah masuk kelas itu gue tahu, kata gagal nggak tepat diberikan untuk mereka.

Vierro, 18 tahun
Nggak ikut UN gara-gara nggak bisa ninggalin kompetisi catur di Roma. Tetangga ada yang nyeletuk, sepenting itu pertandingan gue sampai rela ikutan paket C yang isinya orang-orang payah? Seenaknya aja dia bilang payah. Gue jelasin juga percuma. Gue tahu sebenarnya mereka memang nggak suka sama gue yang punya banyak uang gara-gara catur doang.

Daniar, 17 tahun
Penyakit ini nggak akan mengambil semua dariku. Aku bakal sembuh dan kejar cita-citaku dengan sekolah setinggi-tingginya. Program paket C membantuku mewujudkan itu.

Bogel, 20 tahun'
Gue memang dulu bandar narkoba, keluar masuk penjara. Terus lo pikir gue nggak boleh punya ijazah? Enak aja lo ngomong!

Blurb nya aja udah keren, gimana kisahnya ya?




"Kesempatan kedua ada bagi mereka yang mau berjuang."

Jabatan Geta yang pernah menjadi ketua OSIS tak serta merta membuat dirinya disukai semua warga sekolah. Keberanian yang tinggi dan otak brilian mengiringi kehidupan cewek bernama lengkap Getaran Cinta Semesta. Iya, namanya memang unik, dan awalnya aku menyangka jika Geta ini seorang cowok, tapi ternyata aku salah. Maafkan.
Dua bulan menjelang UN, ia dikeluarkan dari sekolah secara sepihak akibat dituduh mengakibatkan salah seorang siswi bunuh diri. Pilihannya hanya ada dua, Geta mengakui sesuatu yang ia tidak perbuat atau dikeluarkan dari sekolah.

Geta merasa pilihan yang ia ambil sudah tepat. Hatinya memang kecewa, dan dia semakin merasa bersalah ketika kedua orang tuanya juga ikut merasakan apa yang Geta rasakan. Geta galau, tentu saja. Meski sifatnya cuek dan masa bodoh, tetapi Geta hanya remaja biasa. Dan kehadiran Rajiv sebagai sahabatnya sangat membantu Geta dalam menghadapi masalahnya.

"Kenapa gue terpuruk kayak gini? Padahal gue bukan murid yang suka bikin masalah." Hal. 32
Pada akhirnya, Geta memilih paket C untuk menyelamatkan masa depannya. Dan di kelas paket C inilah ia dipertemukan dengan sosok-sosok yang luar biasa dengan berbagai latar belakang. Ada Daniar, seorang gadis yang tetap semangat dan selalu ceria meski Kanker Ewing Sarkoma menggerogoti tulangnya. Lalu ada Bogel, mantan napi yang kekeuh mendapatkan ijazah. Dan terakhir, ada Vierro kembarannya Vierra. Wkwk nggak ding boong. Vierro ini pecatur kelas dunia. Keren kan?

Bersama-sama mereka saling memberi semangat untuk menaklukan paket C. Sementara itu, Geta masih penasaran siapa pelaku dibalik kasus yang menimpanya. Karena ada banyak kejanggalan yang ia rasakan. Di sini, pembaca diajak untuk ikut menebak si pelaku. Jadi berasa detektif.

Menjelang bab akhir, satu persatu rahasia terungkap. Dan tebakanku benar-benar meleset. Sama sekali nggak nyangka sama penyelesaian konfliknya. Keren sih menurutku. Eksekusi konflik yang pas banget.

"Breaking point itu salah satu istilah psikologi. Diartikan sebagai keadaan saat seseorang sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Ibaratnya kalian tenggelam di lautan terdalam di dunia."

Aku bersyukur bisa menikmati novel ini. Bagaimana Geta menyikapi keadaan yang seolah nggak berpihak padanya dan semangat masing-masing tokoh untuk menggapai mimpinya.

Novel ini menggunakan alur maju dengan setting lokasi di Bogor dan Jakarta. Di sini juga diulas bagaimana memainkan catur, jadi nggak hanya sekedar tempelan. Plotnya rapi dan aku nggak menemukan typo sama sekali. Applouse dong buat sang editor...

Untuk karakter masing-masing tokoh juga kuat, pembagiannya sesuai porsi. Aku paling suka sama karakter Geta, dia memang kuat, tegar, dan berani. Tetapi penulis tetap menunjukkan bagaimana Geta yang memang seorang remaja masih suka galau, nangis, dan butuh sandaran. Jadi menurutku, karakternya nggak "maksa".

Ide cerita yang diangkat benar-benar fresh, 'Paket C', bahkan sebelumnya aku hanya menganggap itu sambil lalu. Penulis berhasil mengeksekusi dengan baik serta dikemas secara apik dan menarik. Selain kental akan motivasi, Breaking Point juga turut menyorot praktik korupsi beberapa oknum bahkan di ranah pendidikan sekalipun. Kasus suap menyuap dan hukum yang berat sebelah. Yang nggak kalah penting yaitu bagaimana kuatnya persahabatan di sini. Kamu harus buktikan bahwa rasa nyaman nggak selamanya sudah lama saling mengenal. Di sini, kamu akan ditunjukkan bagaimana arti persahabatan yang sesungguhnya.

Pokoknya,Breaking point recomended buat kamu yang butuh bacaan young adult atau sedang merasa terpuruk. Aku yakin kamu akan merasa termotivasi setelah membaca novel ini.

Okey, see you in next post...