Judul : Cinta Kita yang Rasa
Penulis : Ariana Oktavia
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2019
Tebal : vi + 230 halaman
ISBN : 978-979-780-947-8
"Susah tuh, cewek dan cowok yang sahabatan tanpa ada rasa."
"Pacaran sama teman? Kayak nggak ada cewek atau cowok lain aja!"
Sebagian di antara kita mungkin pernah berada di situasi yang sama, mencintai seseorang tana keberanian untuk menyatakan. Rasanya, lebih bisa bertahan dengan sesuatu yang mengganjal perasaan ketimbang kehilangan rasa nyaman.
Begitu juga Adit dan Yara, mereka hanya berani mencintai sebatas dalam diam. Persahabatannya tak boleh dirusak oleh percintaan, katanya.
ULASAN
Whoahhhh akhirnya aku nulis di blog lagi setelah setahun vakum. Hai kalian, apa kabar?
Nah, untuk membuka tahun 2020 ini, aku mau mengulas salah satu novel dari Gagas Media nih. Setelah membaca blurb di atas, bau-baunya novel ini tentang friendzone ya, setuju nggak?
Yap! Jadi ini kisah antara Adit dan Yara yang sudah sahabatan sejak SMA. Dimana ada Yara disitu ada Adit. Dari perlakuannya, kelihatan banget kalau Adit ini sayang banget sama Yara. Dia selalu ada di saat Yara butuh. Bahkan nih, Adit rela lho nungguin Yara ngedate sama Rian. Wahh, Adit bucin banget ya. Haha.
"Kalau salah satu pihak selalu memaksakan kehendak, apa masih pantas disebut hubungan." Hal. 39
Sementara Yara, dia tipe cewek yang mudah jatuh cinta, termasuk dengan Rian. Dia begitu yakin menerima cinta laki-laki itu, padahal mereka baru kenal enam bulan. Aku agak kurang suka sih sama sifat Yara yang kesannya kayak labil gitu. Kalau dia udah sama Rian ya udah, jangan berharap lebih ke yang lain. Tetapi di sisi lain kasian juga sih, Yara nggak bisa jadi diri sendiri di depan pacarnya.
Aku menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. Konfliknya cukup ringan dan bahasa yang digunakan mengalir begitu saja. Sudut pandang yang digunakan bergantian antara Adit dan Yara, dengan begitu aku bisa merasakan kegalauan Adit di sini. Sayangnya chemistry keduanya kurang kuat, mungkin kalau interaksi keduanya lebih diperdalam pembaca bisa makin bawa perasaan.
Selain Adit dan Yara, ada juga Adriana dan pastinya Rian dong. Kalau kata Adit, Rian mirip oppa-oppa Korea. Hmm bisa membayangkan wajah Rian kan? Rian juga orang yang penuh kejutan, berkali-kali Yara dapat surprise dari pacarnya. Romantis banget kan? Aku juga suka perkembangan karakter Rian, dan ini yang membuat Yara semakin galau.
Kira-kira kalau kamu disuruh milih antara Adit dan Rian, mau pilih yang mana?
"Kalau aku memilih menutup mata dengan kenyataan ini dan menerima kamu, itu sama saja menyiksa hati aku sendiri. Dan juga hati kamu, Dit. Karena kita gak bisa mengatur pada siapa kita akan jatuh cinta." Hal. 140
Dari novel ini salah satu pesan moral yang aku simpulkan yaitu kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, nggak ada salahnya mengungkapkan perasaan, pada sahabat sekalipun. Risiko ditolak pasti ada, tapi bukankah itu lebih baik ketimbang kamu tersiksa dengan perasaan yang terus-menerus kamu pendam? Tetapi itu semua balik lagi kepada dirimu, mana yang ingin kamu tempuh untuk memperjuangkan rasamu.
Last, terimakasih untuk Kak Rizky dan Gagas Media yang sudah memberikan kesempatan mengulas novel ini. Sampai jumpa di lain waktu...
