Senin, 11 Mei 2020

Review Hujan Punya Cerita tentang Kita karya Yoana Dianika

Review Novel Hujan Punya Cerita tentang Kita karya Yoana Dianika, "Benarkah cinta itu egois?"




Judul : Hujan Punya Cerita tentang Kita
Penulis : Yoana Dianika (@cerberus404)
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit : Januari 2020 (kover baru)
Tebal : vi+298 halaman
ISBN : 978-602-220-349-0
Harga : Rp82.500 (Pulau Jawa)
Blurb:

Jatuh cinta kepadamu begitu menyenangkan,
seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam yang hujan. 
Seperti menemukan keping terakhir puzzle yang sedang kau susun.
Cinta ini sudah berada tepat di tempat yang seharusnya, 
di ruang hatimu dan hatiku.

Namun, mengapa resah justru yang merajai kita?
Padahal, katanya cinta sanggup menjaga.
Aku ingin kau tahu, diam-diam,
aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam  beribu-ribu rintik hujan:
aku ingin hari depanku selalu bersamamu.

Aku mencintaimu. Selalu.
Dan, mereka tak perlu tahu

Sekilas tentang Novel "Hujan Punya Cerita tentang Kita"

"Dalam menyukai seseorang, ada pihak yang merasa bahagia, tetapi tak sedikit juga ada pihak yang merasa terluka." Hal. 34

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata atau KKN memang seringnya memberikan kesan yang sulit dilupakan. Pengalaman tentang bagaimana terjun langsung ke masyarakat, beradaptasi dengan lokasi yang kadang kurang memadai, dan tentu saja cinta lokasi yang acap kali terjadi. Kinanthi Olivia pun begitu. Cewek introvert yang sulit untuk berbaur dengan orang-orang baru dan khawatir dengan kegiatan KKN ini, perlahan bisa menyesuaikan diri. Itu semua berkat Ranggadipta, cowok jurusan Sastra Indonesia yang baru dikenalnya saat pembekalan KKN. Sikap Rangga yang supel membuat Kei merasa nyaman di dekatnya. Rangga selalu ada untuk Kei, termasuk ketika astrafobia Kei kambuh.

Keduanya semakin dekat, momen-momen yang ada selalu digunakan Rangga untuk memasuki dunia Kei. Uniknya, Rangga dan Kei punya sisi yang bertolak belakang. Kei membenci hujan karena tak jarang hujan datang disertai petir, dan itu membuat Kei takut. Sementara Rangga adalah seorang pluviophile, penggila hujan.

Meski keduanya menyimpan rasa yang sama, tak serta merta membuat Rangga dan Kei bisa dengan mudah bersama. Ada Krisanti, sahabat Rangga yang ternyata diam-diam menaruh cinta padanya. Pun dengan Azar, cowok yang juga tertarik dengan kepribadian Kei. Seolah belum lengkap, semesta turut memaksa keduanya untuk berpisah. Benarkah jika Rangga hanya orang yang numpang lewat di hidup Kei?

Ulasan

Aku begadang sampai jam setengah tiga demi menyelesaikan novel ini. Beberapa hal yang terasa mengganjal di novel ini membuatku sulit memejamkan mata.

So, apa sih yang membuatku terganggu sekaligus penasaran sama novel ini? Pertama, ada banyak hal yang dijelaskan secara detail di sini. Awalnya masih bisa aku nikmati, tetapi lama kelamaan membuatku bosan. Alurnya jadi terkesan bertele-tele. Aku baru bisa menikmati novel ini setelah memasuki konflik. Kedua, ada beberapa hal yang kurang sinkron, hal-hal kecil memang, tapi mengganggu. Misalnya di halaman 65, di sana dijelaskan bahwa KKN berakhir pada pertengahan Februari, tetapi di halaman 160 setting waktu masih ada di Bulan Januari. Padahal saat itu kegiatan KKN sudah selesai. Sebenarnya masih cukup banyak kekurangtelitian di sini, tapi aku nggak mungkin menjabarkannya satu-satu, kan?

Eitsss, kekurangan di atas bukan berarti membuat cerita ini nggak menarik ya. Bahasanya dibuat puitis dengan diksi-diksi pilihan, ini mendukung sosok Rangga yang memang jago membuat puisi. Aku kasih jempol untuk puisi-puisinya. Skill fotografi Rangga membuatku rindu untuk menjepret keadaan di sekitar secara random. Setting tempat sebagian besar berada di Bojonegoro, Yogyakarta dan Surabaya. Masing-masing dijelaskan dengan baik. Kabar baiknya, bagi kamu yang menyukai kejutan dalam cerita, novel ini menawarkan kejutan tersebut. Penasaran buat baca?

Secara keseluruhan, aku cukup suka dengan novel ini. Aku kagum sama kepiawaian penulis dalam menciptakan karakter-karakternya, terutama Azar. Pesan yang bisa kutangkap dari novel ini adalah bahwa mengikhlaskan dia dengan orang lain juga bagian dari bentuk rasa cinta.

Gimana? Tertarik buat baca? Selamat menikmati kisah mereka....

Senin, 03 Februari 2020

Review Novel 'Cinta Kita yang Rasa' by Ariana Octavia




Judul : Cinta Kita yang Rasa
Penulis : Ariana Oktavia
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2019
Tebal : vi + 230 halaman
ISBN : 978-979-780-947-8


"Susah tuh, cewek dan cowok yang sahabatan tanpa ada rasa."

"Pacaran sama teman? Kayak nggak ada cewek atau cowok lain aja!"

Sebagian di antara kita mungkin pernah berada di situasi yang sama, mencintai seseorang tana keberanian untuk menyatakan. Rasanya, lebih bisa bertahan dengan sesuatu yang mengganjal perasaan ketimbang kehilangan rasa nyaman.

Begitu juga Adit dan Yara, mereka hanya berani mencintai sebatas dalam diam. Persahabatannya tak boleh dirusak oleh percintaan, katanya.


Namun, pada akhirnya kita harus memilih, selamanya hati akan terbenam pertanyaan atau berani bertaruh untuk mengungkapkan. Untuk menjangkau hatinya, ada keberanian yang selayaknya kita coba karena cinta, kita yang rasa.

ULASAN

Whoahhhh akhirnya aku nulis di blog lagi setelah setahun vakum. Hai kalian, apa kabar?
Nah, untuk membuka tahun 2020 ini, aku mau mengulas salah satu novel dari Gagas Media nih. Setelah membaca blurb di atas, bau-baunya novel ini tentang friendzone ya, setuju nggak?

Yap! Jadi ini kisah antara Adit dan Yara yang sudah sahabatan sejak SMA. Dimana ada Yara disitu ada Adit. Dari perlakuannya, kelihatan banget kalau Adit ini sayang banget sama Yara. Dia selalu ada di saat Yara butuh. Bahkan nih, Adit rela lho nungguin Yara ngedate sama Rian. Wahh, Adit bucin banget ya. Haha.


"Kalau salah satu pihak selalu memaksakan kehendak, apa masih pantas disebut hubungan." Hal. 39

Sementara Yara, dia tipe cewek yang mudah jatuh cinta, termasuk dengan Rian. Dia begitu yakin menerima cinta laki-laki itu, padahal mereka baru kenal enam bulan. Aku agak kurang suka sih sama sifat Yara yang kesannya kayak labil gitu. Kalau dia udah sama Rian ya udah, jangan berharap lebih ke yang lain. Tetapi di sisi lain kasian juga sih, Yara nggak bisa jadi diri sendiri di depan pacarnya.


Aku menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. Konfliknya cukup ringan dan bahasa yang digunakan mengalir begitu saja. Sudut pandang yang digunakan bergantian antara Adit dan Yara, dengan begitu aku bisa merasakan kegalauan Adit di sini. Sayangnya chemistry keduanya kurang kuat, mungkin kalau interaksi keduanya lebih diperdalam pembaca bisa makin bawa perasaan.

Selain Adit dan Yara, ada juga Adriana dan pastinya Rian dong. Kalau kata Adit, Rian mirip oppa-oppa Korea. Hmm bisa membayangkan wajah Rian kan? Rian juga orang yang penuh kejutan, berkali-kali Yara dapat surprise dari pacarnya. Romantis banget kan? Aku juga suka perkembangan karakter Rian, dan ini yang membuat Yara semakin galau.
Kira-kira kalau kamu disuruh milih antara Adit dan Rian, mau pilih yang mana?

"Kalau aku memilih menutup mata dengan kenyataan ini dan menerima kamu, itu sama saja menyiksa hati aku sendiri. Dan juga hati kamu, Dit. Karena kita gak bisa mengatur pada siapa kita akan jatuh cinta." Hal. 140

Dari novel ini salah satu pesan moral yang aku simpulkan yaitu kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, nggak ada salahnya mengungkapkan perasaan, pada sahabat sekalipun. Risiko ditolak pasti ada, tapi bukankah itu lebih baik ketimbang kamu tersiksa dengan perasaan yang terus-menerus kamu pendam? Tetapi itu semua balik lagi kepada dirimu, mana yang ingin kamu tempuh untuk memperjuangkan rasamu.

Last, terimakasih untuk Kak Rizky dan Gagas Media yang sudah memberikan kesempatan mengulas novel ini. Sampai jumpa di lain waktu...